Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut

Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut 

Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut
Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut 
NEWS COVERAGES: Musik Dangdut selalu identik dengan goyangan. Musik Dangdut tanpa goyangan ibarat sayur tanpa garam. Penontonpun bebas bergoyang menyalurkan pepat hati, menuruti naluri, terjun dalam kebahagiaan diri, menikmati kebebasan alami, hanyut dalam alunan musik Musik Dangdut.

Perkara goyang ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Yang mengecam goyangan erotis menganggap bahwa goyangan ini dapat merusak moral bangsa. Mereka menuduh bahwa yang datang menonton musik Musik Dangdut tidak untuk mengapresiasi musiknya tetapi untuk memuaskan syahwat dan birahi mereka. Dan, bila penyanyinya tidak bergoyang erotis, disuruhnya turun panggung.

Goyang Pemanasan Awal Yang Mulai Penonton Musik Dangdut Tergiur
Bagi yang setuju, dengan bergoyang penyanyi Musik Dangdut akan dapat popularitas dan penonton mendapatkan hiburan. Sensualitas telah menjadi ajang katarsis atas beban kehidupan yang semakin sulit. Musik Dangdut terbukti ampuh meninabobokkan masyarakat yang sedang menderita. Apalagi tema lagu Musik Dangdut yang berkisar seputar masalah percintaan dan balada kehidupan sangat cocok dengan nurani golongan masyarakat menengah kebawah yang sedang menghadapi kenaikan harga-harga akibat naiknya BBM.
Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut
Maka, berpahalalah OM Maulana yang pentas di arena Festival Kesenian Yogyakarta 2008, telah menjadi penghibur bagi masyarakat Yogyakarta untuk sejenak melupakan beban kehidupan, yang terbayang di depan mata. Goyang mas, ser ser ser…..

Tahun 1970-an, Musik Dangdut dikenal juga dengan nama musik melayu. Musiknya mendayu-dayu, mendengarkannya orang bisa menikmatinya sebagai sebuah alunan lagu. Contoh-contoh artis Musik Dangdut jaman itu merupakan Ida Laela, Ahmadi dan grupnya Arwana. Gayang seperti saat ini tidak pernah dibayangkan oleh orang masu lalu bisa ada pada msuik Musik Dangdut, memang terdapat orang bergoyang tapi santai sangat santai lagu-lagu saat itu mirip-mirip lagu Melayu yang saat ini masih terdapat di Sumetera.

Era Rhoma Irama menjadi penanda awal bagi musim Musik Dangdut, musik yang asalnya mendayu-dayu dan terkesan monoton dirombak oleh Rhoma dengan memadukan unsur Rock dan India. Jadilah musik Musik Dangdut menjadi lebih atraktif dan lebih enerjik, orang bergoyang pun mulai lebih bersemangat. Artis-artis pada periode ini merupakan Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Mansur S, dll. Periode artis-artis tersebut berjaya pada tahun 1980-an, tahun 1990-an nama seperti Imam S. Arifin, Jamal Mirdad, Evi Tamala, Yus Yunus, A. Latief, dst.  sempat berjaya. Priode ini bertahan hingga tahun 2000, tahun 2001 musik Musik Dangdut memulai babak baru, musik massa ini dihebohkan dengan kemunculan ikon baru, Inul Daratista.

Nyanyian Musik Dangdut kemudian diramu dengan goyang yang menggoda sungguh membuat banyak penikmat musik Musik Dangdut pinggiran mengenal sosok Inul. Aku sendiri mengenal Inul baru pada tahun 2000-2001, saat itu Inul sudah menjadi perbicangan di kalangan penimat Musik Dangdut Jawa Timur. Tapi jujur Inul banyak terkenal di kalangan para pemuda di JawaTimur. Dan baru tahun 2002 Inul hijrah ke Jakarta dan menelorkan lagu yang masih digarap dengan apa adanya, entah apa judul lagunya saat itu (seingat aku, Inul sudah tampil di TV nasional sebelum lagu “Cinta dikocok-kocok”).

Sejak fenomena Inul, penyanyi yang memadukan musik Musik Dangdut dengan goyangan hot terus bermunculan, Uut Permatasari menjadi penyanyi yang menasional yang mewakili kelompok ini. Padahal setahu penulis, berdasarkan rekaman video Uut pada saat ia tampil dari panggung desa ke desa lain ia merupakan seorang penyanyi manis dan kalem, goyangannya biasa-biasa saja, tak tampak bahwa ia akan menjadi ikon goyang hot. Tentu saja saat Uut hijrah ke Jakarta dan menelurkan lagu putri panggung aku menjadi kaget dengan perubahan yang dramatis tersebut. Pada saat aku pergi ke Taman Remaja Surabaya (TRS) Uut juga hadir untuk mengisi acara off air, dan aku bertambah kaget saat Uut menyodorkan bokongnya ke penonton seakan menantang penonton pria yang melihatnya, hingga aku sempat berpikir nakal, “Berapa harga bokong Uut, ya ?”

Walau pun aku harus beristigfar atas niat jahat tersebut. Setelah kesuksesan dua orang biduan Musik Dangdut tersebut muncul banyak biduan beraliran serupa, sebut saja nama Trio Macan, kembar srikandi, dewi perssik, dll.

Orkes-orkes melayu pun berkembang dari orkes yang beralat musik lengkap yang untuk mengundangnya membutuhkan uang di atas lima juta berkembang hingga orkes yang hanya mengandalkan organ tunggal yang bertarif satu juta-an. Dan seronoknya hampir semua orkes-orkes tersebut mengandalkan tubuh dan goyangan dalam setiap pementasannya. Padahal suara penyanyinya pas-pasan, pas didengar pas dilihat.

Sedikit menengok ke belakang lagi. Sebenarnya Musik Dangdut dengan tari seronok dan musik keras itu sudah berkembang sejak tahun 1990-an. Aku melihatnya di pub-pub di kawasan merah Dolly. Di tempat-tempat tersebut, musik Musik Dangdut yang masih biasa-biasa saja dipadu dengan musik remix atau disco, tak tanggung-tanggung lagu-lagu Rhoma Irama yang bernada agamis pun di jadikan remix dan kemudian diperdengarkan dengan biduan-biduan samlohe lengkap dengan minuman keras di meja pengunjung. Nah, apabila menilik dari sini kita bisa melihat bahwa sebenarnya fenomena musik Musik Dangdut erotis yang banyak diperankan organ-oragan tunggal berawalnya dari sini, dulu hiburan yang hanya bisa dinikmati di ruangan terbatas tersebut yang meniknatinya harus sembunyi-sembunyi dari istri kini bisa dinikmati secara bebas oleh masyarakat umum dipertonotonkan di hadapan publik mulai dari nenek-neke peyot hingga anak-anak kecil yang berada dalam masa duplikasi prilaku.

Entah ini evolusi musik Musik Dangdut atau degradasi kualitas. Apabila evolusi seharusnya musik Musik Dangdut mengarah pada kualitas yang lebih baik dari sebelumnya, tapi buktinya tidak. Musik Musik Dangdut saat sekarang ini kering dari nilai-nilai, musiknya tidak menggambarkan seni tingkat tinggi, lagunya pun banyak yang daur ulang dari lagu-lagu lama. Apalagi apabila dilihat dari penciptaan lagu, era penciptaan lagu Musik Dangdut saat sekarang ini jauh tertinggal dari penciptaan lagu Musik Dangdut tahun 1980-1990-an baik secara kuantitas maupun kualitas. Tapi mau bagaimana lagi, eksploitasi goyangan dan tubuh akan terus marak karena pria juga lebih suka melihat atau lebih tepatnya memelototi tubuh wanita ketimbang menilai kualitas suara dan artistik sebuah lagu yang dibawakan serta pesan yang ingin disampaikan. Entah ini evolusi atau degradasi ?.
Contoh Videonya:
Baca juga:Suami Dayung Becak Buat Cari Makan, Istri Malah ‘Didayung’ TetanggaSri Utami Joget Musik Dangdutan Koplo Sambil Buka-Bukaan
Demikianlah ulasan singkat tentang Inilah Model Dangdut Zaman Sekarang Yang Menua Kecaman Dari Pecinta Dangdut, Selanjut Lelaki Nias Ini, semoga menjadi pelajaran buat kita semua.

Sumber: http://promusik.wordpress.com